Saturday, February 20, 2010

Ketika dua dunia bertaut. ♥

Sabtu, 20 Februari. Pukul sembilan pagi.
Mata tertuju pada satu dari masing mas├Čng kami.
Empat kursi disusun mengelilinginya.
Dua dunia berbeda, dahulu terpisahkan.

Sabtu, awan berarak tanpa tangisan.
Acara dilangsungkan, takdir dirampungkan.
Mata yg penuh, tak serta jatuh,
Dua dunia, dahulu dua.

Pukul sembilan tepat, hingga pukul sepuluh khidmat.
Ikatan dilangsungkan tanpa ragu.
Senyum terkembang, hukum pun menggangguk.
Dua dunia, tak lagi dua.

Ialah rumah bernomor 177, saksi bisu.
Ketika kami menyaksikan awal dari sepasang akhir.
Ya, awal yg indah.
Dua dunia, ya.

20 Februari 2010, kini bermakna.
Kan slalu terpahat dalam ingatan kami.
Dua dunia, dua jenis, dua kehidupan.
Dua yg mengawali semuanya, kini satu untuk selamanya.


Selamat yaa, sepupuku! :)

Wednesday, February 17, 2010

Kuliah? Apa kewliah? Mungkinkah nguli dah?

Happy hours! Atau selamat jam! Selamat anda baru saja melihat jam! Dari sini ke depan akan saya gunakan bahasa indonesia. Enjoy! :p


Baiklah kembali ke masanya, kuliah. Masa dimana bapak dosen memberikan tugas, dan tidak datang dengan sejuta alasan sibuk, ketika tiba tenggat waktu tugas. Menyebalkan sekali ya? Oh jelas! Ini kuliah.

Ada juga seperti ini. Ketika ibu dosen tiba di kelas, menggumam di depan kelas sambil memeriksa pangkuan puncaknya sesekali, lalu setelahnya memberikan tugas yg tidak ia jelaskan. Kesal? Tentu! Ini kuliah.

Yang ini juga bisa. Disaat kita sedang asyik bersenda gurau dengan sebangsanya, dering telepon tangan pun berbunyi, seketika belasan ribu bita diunduh dan diproses sesuai ilmu yg belum dipelajari di waktu perkuliahan. Letih, lelah, lesu, lunglai, lemas? Jelas! Ini kuliah.

Atau begini. Waktu menunjukkan pukul tujuh belas lebih empat puluh lima WIB, seharusnya empat puluh menit yg lalu kelas dibubarkan, namun dosen yg terhormat "menyihir" kami semua sehingga kami tidak mampu beranjak dari tempat duduk. Malas dan bosan? Tak diragukan lagi! Ini kuliah.


Seandainya anda dapat pindah ke masa apapun yg anda inginkan, mungkinkah anda akan memilih masa perkuliahan?


Seharusnya, YA.
Kuliah, bukan semata mata tempat yg buruk. Meskipun memang disinilah tempat para benalu yg setia bernaung di kelompok tugas tanpa berkontribusi suatu apapun.
Tapi, ini bukan sebuah alasan untuk menghentikan usaha anda di setiap helai tugas anda.
Kuliah, bukanlah tempat untuk duduk, diam, dan mendengar. Meskipun memang ketika kursi sakti ditempati oleh seseorang yg pernah mengalami masa ini setidaknya dua kali, seketika tiga hal itulah yg patut dikerjakan.
Tapi, ini bukanlah semata mata berarti anda tidak boleh berdiri, menginterupsi dan berbicara.
Kuliah, tidaklah berat. Meskipun memang segala tugas dan lainnya terkadang membebani sampai merusak alas tidur karena semua buku yg singgah diatasnya.
Tapi, ini tidaklah hendaknya menghentikan anda untuk tetap memikul beban ini.
Dan kuliah, hanyalah satu tantangan. Meskipun di dalam dunianya, tantangannya sejumlah lembaran buku dan tugas yg dikerjakan.
Tapi, ini hanyalah sedikit warna yg tergores pada kanvas kehidupan anda, maka ambillah kuas terbaik, dan buatlah sebuah mahakarya!

Ingatlah, dunia yg satu ini tidak semua orang bisa berpijak diatasnya. Maka, gapailah semua yg bisa anda capai dengan bantuan pijakan ini!



Keep your chin up, be proud, and keep that smile glows all over the world! :D

Sunday, February 14, 2010

Oink', Gen 2.

Oink'!
Udah tanggal yg kemarin dibicarain aja. Imlek! Gong xi Fat Choi! Tahun macan logam yaa? Wah. :D

Haha. Sayang sekali ketika tulisan ini ditulis, hujan tidak turun dan jeruk imlek tidak ada di hadapan.
Ya sudahlah! Paling nggak berita pagi gak semuanya berwarna pink. It comes in red instead! :)

Eh bukannya selamat pagi malah pembaca disuguhi ucapan makhluk berhidung oo itu. Maaf yaa gak sopan. :)
Pagi pembaca! Udah sarapan? Saya makan nasi goreng dong! Warnanya merah, yay! :)

Yap, masih tentang 14 Februari, tanggal dimana jutaan manusia dibumi ini, mengganggap hari ini sebagai hari kasih sayang, atau valentine, atau apalah bahasa lainnya. Hari dimana para sepasang kekasih saling memberikan hadiah kepada pasangannya. Nyaris semua stasiun tv swasta menyiarkan acara yg romantis. Diskon pun bertebaran di mall mall. Tempat liburan menawarkan harga yg sulit untuk ditolak. Restoran maupun cafe menyuguhkan suasana romantis, terutama di waktu malam. Papap cuap.

Tapi, hadiahnya cuma bunga sama coklat, basi banget. Acara tvnya sama kayak tahun lalu. Pusat perbelanjaan ramai pengunjung. Jalan ke tempat liburan macetnya gak karuan. Dimana mana tempat makan cuma ngasih lilin aromatik, dan bilang itu romantis, paling bagus ada live music. Dan anda tetap bersikeras ini hari yg romantis untuk anda berdua? Udah pernah kelilipan sendal?

Haha, sepertinya penulis kesal. Pasti gak dapet coklat.
Sok tau. :) Justru karena dikasih coklat cuma pas hari ini makanya kesal, kenapa gak tiap hari sih?! *dilempar bakiak*
Yaa, balik ke inti masalah, jadi sebenarnya, menurut penulis apa yg salah dengan hari ini dan segala perayaannya?

Niatnya
Karena apa?
Manfaatnya.
Dapat apa?
Maknanya.
Ada?

Oink'
Ia berada di kubangan lumpur karena dikumpulkan tuannya.


Oink'
Ia menggunakan alas tidur yg pernah digunakan sejenisnya.


Oink'
Ia tidak pernah berusaha keluar dari kandangnya.


Oink'
Ya, ia makhluk merah muda, pemakan segala yg diberikan tuannya.

Gak terlalu jauh berbeda sama definisi orang yg mengagungkan hari ini.

Merayakan karena pengaruh para kapitalis.
Menggunakan ide ide kreatif orang lain.
Tidak pernah sedikitpun mau berusaha meninggalkan perayaan hari akbar ini.
Ya, konsumtif terhadap semua hal yg berbau cinta di hari itu.

Sadarkah anda, ini semua hanyalah tipu daya para pebisnis yg semata menginginkan keuntungan berlipat?
Kalau tidak percaya, silahkan cari, banyak catatan tentang perayaan sesungguhnya hari Valentine, telah hilang. Barulah di sekitar abad ke-19, disaat teori kapitalisme kembali dikumandangkan dan industrialisasi mulai terjadi, Esther A. Howland, anak dari seorang pemilik toko buku mempunyai ide untuk memproduksi kartu Valentine secara massal. Dan dari sinilah era Valentine modern berawal, para kapitalis mengencangkan sekrup dan baut mesin pekerjanya untuk meraup untung sebesar besarnya dari prilaku konsumen yg konsumtif terhadap sebuah trend. Hm, saya kuliahin dikit yaa! :)

Eh, bahas sedikit lagi boleh kan? :) Kapitalisme artinya pemilik modal dapat melakukan apapun dengan segala aset yg dia miliki untuk meraup untung yg sebesar besarnya. Yaa, itu, kurang lebih. Masih lebih luas kajiannya. :)
Sedangkan industrialisasi itu merubah tenaga kerja manusia menjadi mesin, yg mana mampu memproduksi dalam jumlah besar, dan biaya yg lebih murah. Dan itu secara garis besarnya. Nanti bosan kalau ekonomi semua. :p

Balik ke satu paragraf diatas yg tadi, jadi apa maksudnya nih?
Hari ini adalah hari penumpukan pundi pundi orang bermodal yg membeli ide untuk dibuat dalam jumlah besar, sehingga para konsumen yg telah terdoktrin, cenderung tertarik dan mengkonsumsi tanpa memilih secara selektif. Itu dikarenakan doktrin yg mereka buat, adalah tema yg sangat manusiawi. Cinta.

Anda pasti rela melakukan apapun demi cinta, benar kan? Ini sangat manusiawi, ada yg bilang, life is nothing without love. Jadi topik yg krusial ini, ketika digunakan sebagai media pemasaran sebuah produk, dampaknya akan menjadi teramat besar. Yap, kapitalis menang 1-0. Maka dari itulah, saya sedikit banyak kurang suka dengan perayaan ini. Sesuatu yg sesuci cinta itu, bukan untuk meraup keuntungan sebesar besarnya, seperti yg anda dapat lihat di sekitar anda hari ini.

Mungkin memang ada benarnya hari ini hari penuh cinta, tapi saya lebih suka merayakan hari ulang tahun pasangan saya nanti, haha. Tentu di hari itu tempat makan yg mejanya terasa sangat romantis, meja kita kan? :)

Good day! :) Jangan dendam yaa, saya gak suka valentine-an, bukan cintanya! :)

Saturday, February 13, 2010

Disaat sedang sedih, kenapa jawabannya karena? :)

Night! :)
Dan itulah semestinya akhir postingan, namun saya tulis di awal karena saya bosan. Eng ing eng! Kayak gak tau aja kata cowok dan bosan itu berhubungan sebab akibat.

Gak mau ngebahas itu, tapi mau ngebahas gaya nulis saya yg kemaren udah ketemu dong! :D Di kolong kasur ketindihan debu debu intannya Cygnus Hyoga pas kemaren kita sparring tinju. haha.

Oh iya topik, makasih udah diingetin.
Tau gak di Jalan Swakarsa IV Rt 004 Rw 02 Pondok Kelapa, dekat masjid An-Nur, nyaris setiap saat manusia normal menutup matanya setelah lelah beraktivitas seharian, ada makhluk "I-do-it" yg nyetel dangdut dengan volume sekitar 115-135 db, yg mana sama dengan speaker odong diatas mobil ambulans. Dan jika anda bertanya mengapa orang sakit di dalam ambulans disuguhi suara yg sangat mengesalkan itu, karena mereka, dokter dan supir ambulans, kemungkinan tidak ingin mendengar tangisan kesedihan keluarga korban yg berada di dalamnya. Melihat orang yg dicintai terbaring lemah tak berdaya itu hal yg paling, tidak enak.

Ini sungguh keterlaluan, bahkan untuk saya yg menikmati malam dengan mata terbuka. Tak ayal, beberapa bulan yg lalu saya pun mendatangi kediaman ketua RT setempat, dan saya komplain tentang masalah ini kepada beliau. Dan yak, Januari indah ku tetap indah hingga tetes terakhir, oh I just love January. :)

Tapi ini nih, 13 Februari 2010, salah satu hari di februari yg ketenangannya dirusak oleh makhluk yg tidak mengerti sopan santun dalam bertetangga. Saya tiap jemput ibu saya, dan lewat rumah ini, ingin rasanya menjatuhkan speaker yg disusun secara bertingkat itu. Pasti balas dendam akan terasa sangaat manis. Melebihi wajah seseorang yg kini membayangi hidup ku? Yaa, balas dendam masih nomer dua lah. :)

Eh, iya, sopan santun dalam bertetangga. Beruntungnya mereka, meskipun saya sedang kesal, dendam kesunat *ups :p*, dan segala yg meledak ledak lah. Saya terlalu baik dengan hanya mendoakan saya dapat koneksi internet hingga Gbps dari Google, karena, yaa anda tahu, doanya manusia yg sedang teraniaya itu lebih cepat dikabulkan. Yay for GOOG!

Sayangnya keselnya gak berubah, apa lagi pada hari sebelumnya penulis sudah tidak merasa hidup kembali, bahkan seperti yg dapat dibaca dari 2 postingan sebelumnya, keceriaan agaknya kandas karena tindakan asusila tetangga tersebut. Namun, ada hal baik yg terjadi hari ini. Dan saya menemukan belasan badut yg teronggok, tak pernah digunakan di dalam pikiran saya. Ya ampun itu ada kelinci!

Malam ini, penulis berbicara tentang sepersekian sedikit dari masalah yg cukup mengganjal dipikirannya kepada seorang calon psikolog *yg cantik jelita, :)*. Dan yak, saya dapatkan beberapa hal menarik.
Pertama, kesulitan dalam hal berbagi yg selama ini dialami oleh penulis, ternyata menurut beliau tidak hanya dialami oleh penulis *gak merasa spesial telornya tiga lagi deh saya :p*. Namun memang ada beberapa orang yg memiliki kesulitan berbagi tentang pengalaman hidupnya, kisah cintanya *lagi agak galau :p*, prestasi dan pencapaiannya, dan lainnya, dikarenakan orang tersebut, tidak merasa nyaman untuk berbagi, dan hal itu bukan berarti anda harus menyalahkan diri anda dan memasukkan diri anda di dalam kotak kategori 'Egois'.
Kedua, kumis itu menjijikan, apalagi kalo sampai bekas kopi dan makanan nempel kayak prangko. Kata anak jaman sekarang, jijayy! *padahal udah bilang gak mau bahas ini lagi :p*
Ketiga, semua masalah itu tidak bisa dipecahkan hanya dengan renungan, tapi dengan tindakan. Dan lebih baiknya jika anda lebih terbuka dengan seorang sahabat. Karena, siapa tahu, ia lebih mengerti masalah kita karena ia pernah berada di posisi ini, dan survived. :)
Keempat, 2 kepala lebih baik daripada satu. Sering seringlah bertukar pendapat, hal itu memang tidak sulit tak juga mudah, tapi postingan ini tercipta dari sekian sedikit menit dan hanya tak lebih dari 2000 karakter sms kami digabungkan. :) Penulis aja yg rada lebay nambahin macem macem. :p
Kelima, akhir akhir ini makin marak berita yg buruk, tapi mau gimanapun itu akan tetap ada, suka gak suka, nonton gak nonton. Makan gak makan asal ngumpul?
Keenam, saya benci dosen kampus saya. Titik.

Dari itu semua, kayaknya penulis bisa ngerangkum deh sedikit.
Rupanya pelajaran sosiologi dahulu kala di SMA *yg mana penulis baru bisa paham asiknya ketika lulus, damn lah. :( Pengen ngerangkum gila gilaan lagi nih bu. :)* pernah ada kata kata 'Manusia sebagai makhluk sosial.. blablabla'.

Manusia itu makhluk sosial, semakin banyak anda bersosialisasi, semakin banyak pikiran anda terbuka, semakin banyak jalan terbentang dari pikiran tersebut, dan pemecahan masalah akan lebih mudah karena jalannya sudah diaspal. :p Ngaco dikit boleh dong.
Lalu, jika anda jarang bersosialisasi, balik lagi dari nun jauh beberapa paragraf diatas. Anda akan menjadi makhluk yg "I-do-it". 'Gw bisa begitu dong, gak boleh? Bilang aja lo sirik!' Heh. Idiot, lebih tepatnya.

All in all, penulis masih merasa postingan ini *lagi lagi* ngebahasnya nanggung, tapi badutnya udah capek bgt. :)
Pasti ada salah salah kata, jadi yaa, saya mohon maaf yg sebesar besarnya jika anda sebagai penikmat musik dangdut merasa terhina. Mohon datangi alamat di atas dan mari kita selesaikan bersama makhluk "I-do-it" itu secara kekeluargaan. :)

Selamat malam bagi anda yg bacanya malam malam. :)

Friday, February 12, 2010

Oink'

Pagi! Lagi sekolah ya pambaca? Kalo saya baru bangun. haha.
Semalem tidur nyenyak? Saya nggak, thanks to dangduters di deket rumah. Keren gak? Konser akbar tiap malam, khusus buat warga se RT, tanpa dipungut biaya, alias, GRATIS *kata yg paling saya suka seumur hidup, sayangnya kali ini salah kondisi* Lain kali saya satronin konsernya pake jubah pocong dan ringtone hape cekikikan.

Okelah disudahi dulu kenyataan buruknya, lepas dari itu, kok judulnya 'Suara makhluk imut imut berwarna pink kecoklatan pemakan segala yg hobinya bergumul di lumpur' sih? Karena udah mau tanggal 14, pada hari itu penulis biasanya sirik sama makhluk makhluk yg dapet coklat dan segala warna pink yg terpampang dimana mana pada hari itu, wah gak kebayang siriknya. Meskipun dapet coklat. :p

Eh, Its Imlek! Asik! Segala warna merah, hujan dan jeruk imlek*harusnya* cukup bisa bikin penulis gak kepikiran oink. Tapi,

Jam dinding digital berdendang 1 kali, lagu apaan gak tau, tiba tiba kepikiran tindakan yg begitu, oink'. Jadilah status facebooknya seperti di bawah ini :
Butuh kardus kosong, mau paketin coklat atas nama 'Your secret admirer' ke semua orang di seluruh dunia. :D Pasti jadi hari penuh senyuman untuk semua orang. :DDD
Tentang bagaimana ini bisa terwujud, mustahil memang. Ada yg bilang ide bodoh, ada yg bilang so sweet. Ini segaris sama tanggal 14 besok. he eh. Iya ini lagi mellow, mendayu dayu selalu riang gembira. Kenapa tiba tiba mikirin jomblowan-jomblowati ya? Ada yg salah sama sifat keegoisan saya. Biasanya hari itu saya dan kasur punya janji pertemuan dengan waktu yg tidak dibatasi. haha.

Kembali ke topik, sebenernya ide status barusan ada setelah ngubek ngubek video SpongeBob di youtube. Episode 'Valentine's Day'. Ups, kesebut deh. :p

Hari kasih sayang itu, menurut sespons yg tinggal di nanas di bawah laut, adalah memberikan kebahagiaan kepada semua orang tanpa pamrih. Surprise! Film anak anak bisa punya filosofi sedalam itu. Halooo! Masih mau bilang film kartun cuma buat anak anak?

Episode 16a ini, tentang SpongeBob yg membagi kebahagiaan hari Valentine bersama warga Bikini Bottom, serta ingin memberikan kejutan spesial berupa balon udara terbuat dari coklat yg dipiloti Sandy kepada sahabatnya, Patrick. Namun rencananya nyaris gagal sehingga ia hanya memberikan jabat tangan kepada Patrick di momen yg begitu sempurna untuk sebuah kejutan. Kekecewaan Patrick pun memuncak, dan berubah menjadi amarah, namun Sandy datang di saat yg tepat, sehingga hari itu berakhir dengan cukup indah. :)

Dan ini mengabsahkan keinginan saya untuk berbagi kebahagiaan karena semangat SpongeBob di hari itu. Meskipun memang secara agama, gak ada gunanya ngerayain hari itu karena pendeta blablabla, massacre dll dst dsb lah.
Duh saya termakan trik dagang, haha. Tapi, hal ini ada bagusnya. Saya jadi terpikir.

Dalam 365,25 hari,
Pernahkah anda setidaknya membuat seseorang tersenyum dengan tulus dari hatinya?
Pernahkah anda dibuat tersenyum setulus hati anda oleh seseorang?
Pernahkah anda melihat orang tersenyum?
Dan, pernahkah anda tersenyum?

Wah omongan saya dewasa banget, minum kopi ya?
Nggak, hanya saja akhir akhir ini berita di tv isinya tentang kesedihan, ketidak adilan, bencana, teror. Saya takut segala senyuman yg dahulu pernah terkembang, lambat laun terhapus oleh berkembangnya jaman. Saya gak ingin hal itu terjadi, sampai kapanpun, saya dan badut akan berusaha membasmi segala tindak penghapusan emosi 'gembira' 'riang' 'senang' 'bahagia', dari muka bumi ini.

Karena itu, kayaknya gak perlu nungguin sampe tanggal 14 buat ngerubah :( menjadi :)
Tanggal 14 itu ada, sama seperti tujuan tanggal lainnya ada. Hanya saja seluruh orang di seluruh dunia sudah terkena taktik para pebisnis yg memanfaatkan prilaku konsumen untuk keuntungan semata,
Dibuktikan dengan, gratis satu tiket masuk suatu 'taman bermain' untuk pasangan yg menggunakan pakaian bertemakan valentine di tanggal 14 Februari 2010.
Coba pikirkan dengan akal sehat, apa iya ada perusahaan mau merugi nyaris 50% pendapatannya, meskipun mereka beralasan untuk membuat hari itu menjadi hari yg indah untuk sepasang kekasih?

Senyuman itu ada, dan saya yakin itulah mengapa dunia ini masih berputar, hanya saja.
Dunia ini sudah lama kehilangan senyuman yg tulus, namun jika hanya saya seorang, seperti status facebook diatas, kemungkinannya nihil. Maka dari itu, pembaca yg budiman dan budiwoman,
Mau bantu saya? :) Tapi saya cuma bisa bayar kamu dengan, ya, senyuman yg tulus dari hati saya, untuk kamu, untuk dunia. :)

P.S : Tetep sirik sama yg statusnya udah ganda campuran, :p Kapan yaa~

haha :p

Morning angel.
It feels like its just yesterday.
When our eyes met, and thereby I say.
Such perfection, really do exist.

We met at the mall.
Guess what? She's no less shiny.
When our feelings collide, surely I must say.
Never thought you will be this perfect.

Making some poetry, and all.
Saw her as the one, oh so inspiring.
Will it be happened, one could tell is time alone.
Just so you know, I cant wait.

Sunday, February 7, 2010

Salon, yup, saya ke salon.


Yo! :) You guys ready to rock? :D
Saya nggak, itu bisa bikin smiley senyum aja udah pencapaian yg sangat tinggi di minggu yg penuh libur ini. :p

Judulnya salon, bagi yg gak tau, mohon berhenti bacanya, yak, disini, oke oke cukup.
Hm? Kenapa diterusin sih bacanya? Beneran ini gak ada isinya. :p Anda akan menyesal melanjutkan membaca ini. :p

Ahaha, ehem, saya mulai. :)
Pada suatu hari minggu yg cerah, hari ini dimulai dengan tv yg selalu menyala di stasiun tv SCTV di pagi hari, *malamnya, saya rasa penghuni rumah selain saya menghibur diri mereka dengan 'you-know-what' di SCTV*, dan membicarakan tentang tempat wisata di bandung, ada kebun teh *yg ini kayaknya di puncak*, ada kopi anggur, dan mata air, yg secara bodohnya, penulis lupa mencatat kesemuanya sehingga seharusnya, tulisan ini berhenti disini.

Namun, semangat jurnalistik, statistik, dan menggelitik saya, tidak dapat ditunda tunda lagi, maka, akan saya lanjutkan hari yg berakhir dengan, cukup menormalkan mood ini. Tak lama setelah kesemua tempat wisata tersebut, wow, Hedi Yunus, Mario Ginanjar, Yovie Widianto, all crew 'Kahitna', perform di Liputan 6 Pagi! :D Hanya kali ini tanpa Carlo Saba, karena ayah beliau baru saja meninggalkan kita semua sejak beberapa hari yg lalu. Minta saat tenangnya sebentar ya, pembaca. :)



Terima kasih. :) Oke dilanjut!
Tak lama setelah wawancara grup band yg sudah eksis selama lebih 2 generasi itu, ternyata orang tua saya, merequest untuk menghilangkan sebagian dari yg banyak orang sebut sebagai 'mahkota wanita' tepat di siang ini. :( Saya benci jika gunting digunakan untuk hal hal yg tidak bermanfaat seperti ini, tapi apa boleh buat, saya tidak rela apabila kejadian ini berdampak buruk pada laporan keuangan perusahaan bulan ini. Maka sebagai pemimpin perusahaan yg baik dan budiman, rajin, sopan, baik hatinya, rajin menabung, ramah kepada handai taulan, banyak bergaul, saya pun merelakan sebagian dari, er, lebih baik tidak disebutkan. :p

Dan ternyata wanita cantik pun mendukung perintah orang tua saya, hm. Jelas kalo sudah begini tidak ada jalan lain lagi. Salon, ini 99% isi dompet saya, mohon digunakan untuk hal yg bermanfaat. Sebagai gantinya, *gulp* t-tolong, err, potong, ARRGH!! POTONG RAMBUT SAYA!!! :((

Gak pake teriak sih, dan gak pake bilang kalo isi dompet sang pujangga sedang tipis. Tapi menurut sudut pandang orang ke sekian, begitulah. Seorang pria mencuci rambut saya terlebih dahulu, dan tak lama, pria yg lainnya memotong rambut saya tanpa sedikitpun perasaan bimbang maupun bersalah. Tapi, hasilnya meskipun sedikit terlalu pendek, cukup baik. :) Sedikit gel/minyak rambut setiap hari akan membuatnya sempurna. :D Wah ini kedua kalinya saya tidak komplain dan meminta tambahan kertas berharga untuk bulan ini. Hebat, dan kini saya mulai sadar mengapa barber shop yg dulu biasa saya kunjungi terasa begitu, mengecewakan.

Alasan pertama, tentu, tak lain dan tak bukan, HARGA.
2 kali lipat, ckckck. Biasanya hanya Rp. 14.000,- untuk kepala dewasa, dan Rp. 12.000,- untuk anak dibawah umur. Kalau di salon, tiap biaya dihitung seperti belanja di supermarket, jadi cuci rambut dihitung satu, creambath itu dihitung sendiri, potong rambut pun lain lagi. Ada paket sih, tapi itu lebih ke girly an, saya tak mau jadi girly-man. *Hoshi inu apa kabar kalian yaa? :)* Ya tidak heran harga hanya potong rambut saja hingga dua kali lipatnya, karena ditambah sampo dan air beserta pekerjanya.

Tapi, HARGA yg mahal itu, dibayar dengan KUALITAS.
Heran saya, pas nyuci rambut ditanyain mau potong sama siapa, jelas jelas saya ini makhluk pendatang, mana kenal sama para ahli pemegang gunting tersebut. Maka akhirnya jawab sekenanya, "Siapa aja deh, yg ada diskonnya aja kalo bisa." Ketawa semua sebaris yg lagi pada nyuci rambut, duh. :p Oh dan motongnya gak pake mesin laknat itu, yg pernah bikin kepala penulis mirip sama rambutan. Gunting, ada 3 apa 4 gitu di tasnya, tapi cuma pake dua. Sisirnya, ada beberapa, dari yg giginya tipis sampe jarang. Meski alat itu gak digunakan semua, tapi kalau seandainya saya minta gaya yg aneh aneh pasti semuanya berdansa di atas kepala saya. Sedangkan di barbershop langganan, pake silet segala. Saya mau potong rambut mas, bukan mau duluan.

Benarkah anda mau menukar HARGA dengan KUALITAS?
Tentu saja, dari sekian ribu uang yg pernah saya keluarkan untuk potong rambut, totalnya 56 ribu rupiah. yg sungguh memberikan pengalaman berharga soal salon ini. Saya tidak akan, baiklah lebih lebay sedikit, TIDAK AKAN, memotong rambut saya di barbershop lagi, kecuali jika oknum tertentu mengharamkan salon. :( Karena saya mulai suka potongan rambut yg mereka lakukan.

Isinya apaan postingan ini heh? :p Kalo anda merasa tertipu yaa, kan sudah saya peringatkan. :p
Good day for all of you guys! :D

Saturday, February 6, 2010

Esde, esde, :)


Hai pembaca yg budiman dan budiwoman. :)
Selamat bermalam minggu yaa bagi yg menjalankan. :p


Terkisah, pada hari sabtu yg kelabu, penulis telah berjanji kepada seorang teman untuk kembali datang pada acara yg sama sekali tidak terorganisir, tapi disinilah kami akan menciptakan organisasi pengumpul pelajar bekas esde yg pernah penulis datangi dahulu kala. :) *sayangnya wanita cantik tidak bisa datang :(* Daan, yak, seperti yg pernah dikisahkan sebelumnya, acara ini pun agak tidak terlaksana dengan cukup baik. Kesulitan dalam pengumpulan para pelajar bekas itu bahkan sudah mencapai puncaknya ketika kami sadari bahwa, ya, banyak dari mereka merasa telah mencapai puncak kehidupannya sehingga melupakan teman, sahabat, atau bahkan mungkin cinta *CURCOL MAKSIMAL NIH PENULIS. :p* yg pertama kali mereka temukan dalam awal langkah kehidupan mereka.


Bukan bermaksud menghina, menjelek jelekkan, memperburuk citra mereka di mata khayalak, tetapi, dari sekian banyak nama yg terucap, ketika nama beberapa pelajar bekas ini disebutkan, kenangan indah yg terekam dimemori para undangan, nyaris NOL besar. Ya, memang bukan sepenuhnya salah mereka, karena mungkin salah kami juga yg mungkin hidup dibawah standar garis hidup yg mereka buat, sehingga, kami pun seketika dilupakan dari memori mereka karena dimata mereka, kami hanyalah BEKAS teman seperguruannya.


Haha, penulis sadis ah. :p Tapi serius bung/bu. Kami TELAH mencoba berkomunikasi dengan segala media yg kami tahu, dan mereka gunakan, tapi tetap, nihil. Memang itu bukan urusan kami untuk menarik mereka kembali untuk mengenang masa masa yg telah lewat, seandainya mereka datang pun, mungkin suasananya akan terasa kurang nyaman, namun, kami merasa, ini kewajiban kami. Kami merasa, jika acara reuni ini akan tetap kami adakan tanpa mereka, tidak akan sama rasanya. :)


Baiklah saya ceritakan sedikit tentang hari ini. :) Pukul 3, seharusnya penulis berkumpul di rumah seorang teman, dan seperti biasa, 30 menit sebelumnya, penulis sudah tiba. Hm? Ya kamu yg disana. Anda baru saja mengatakan jam karet? Ya, tiap jam yg pernah melewati petugas bea dan cukai sepertinya sedemikian rupa dipasangi alat yg bisa mengulur waktu para undangan. Saya kan makhluk yg tidak suka menunggu, jadi sedemikian rupa saya buat sehingga tidak ada yg menunggu saya, karena menunggu itu tidak enak, capek. :( Oh kecuali mungkin tuan rumah yg terhormat memang agak sedikit menunggu. *ya iya lah dia mah nungguin rumahnya* :) Dua tamu undangan pun datang, wah sepertinya cukup lancar. :D Meski itupun harus dengan dibayar dengan beberapa kiriman pesan singkat untuk yg kesekian kalinya. Lalu, awan yg kelabu sejak pukul satu menunjukkan maksud dan tujuannya. Cukup deras hujannya, sehingga salah satu undangan terpaksa berteduh di perjalanan, dan yg satu *wah saya tidak menyangka tulisan saya yg lalu tentang orang ini sang penakhluk hujan ternyata menjadi kenyataan. :)* datang dengan segala air yg melekat dipakaiannya. Oke kami pun membicarakan tentang sang penulis yg sangat berubah, digosipkan penulis sedang dekat dengan seorang wanita cantik *Tau aja, hebat sekali intelnya :p*, membicarakan kesibukan masing masing dan bermain Uno, serta menyelesaikan Rubik's Cube. Agak berat rubiks nya teman saya, jadi sedikit kesulitan. :p Kami membuat beberapa rencana untuk hari ini, satu diantaranya, bertandang ke rumah si nona manis. Wah ada yg tahu saya gugup. :p Tapi menurut subjek, ayah beliau sedang ada di tempat, sehingga kami batalkan. Dan sayangnya, ternyata seorang teman harus pergi karena ada urusan, ah setidaknya kami dapatkan satu media komunikasi yg ia gunakan. :) Tidak lama kemudian datang lagi seorang teman yg tadi terpaksa berteduh. Yg ini pun cukup mengalami hari yg berat dengan baju yg basah itu. Maaf ya penulis dipaksa nih. :p Dan satu satunya wanita, dijemput dan datang ke TKP.


Kami membicarakan beberapa hal, termasuk untuk berusaha mengajak teman yg lain. Dan dari sinilah semua berasal, ternyata tidak sedikit yg menghindari para undangan ketika mereka bertemu di jalan, jangankan bertegur sapa, mungkin melirik saja tidak. Wah, ini baru. Fakta membuktikan, bahwa bagi mereka, kami tak lain hanyalah sekedar pemanis masa lalu mereka. Memang kami pun tidak merasa perkumpulan kami ini sempurna, kami hanyalah sekelompok orang yg mau mengumpulkan para pelajar bekas, nilai kami hanya sebagai pelengkap rapor, kami tidak minta lebih, kami hanyalah ingin mengajak "Ayo dong, kita ngumpul lagi kayak dulu, satu jam aja dari sekian ribu jam yg udah dan bakal lo jalanin,"


"Cukup," seorang teman berkata, "udah males ngumpulin mereka lagi orang sombongnya amit amit." Nggak salah, ini kesekian kalinya acara serupa diadakan, dan nyatanya sulit sekali mengumpulkan 40 orang itu. 40 orang yg telah menjalani ± 5 jam berada dalam satu kelas, nyaris setiap 6 hari tiap minggu dalam 6 tahun. Lupa? Ya, jujur, penulis saja cukup banyak lupa dengan mereka. Tapi masa gak ada yg diingat sih? Masa dari segitu banyak kenangan selama 6 tahun, paling nggak cuma buat ANGKAT TELEPON aja gak mau sih? Pulsa anda gak akan berkurang, saya jamin, tidak ada biaya abonemen *sekalian saya mau memperbaiki, yg bener abonemen ya, bukan abodemen :)*. Tapi itu terjadi.


Lelahnya hari ini, bukan karena kegiatan yg melimpah, tapi saya lelah saja dengan mereka. Saya tahu saya bukan seseorang yg berhak bilang mereka orang jahat, saya tidak berhak bilang mereka tidak beradab, saya pun tahu bahwa saya pernah berbuat kesalahan dengan mereka. Cuma ya, cobalah mengerti sedikit. Karena bagaimanapun kalian itu, kami disini hanya ingin tahu kabar kalian saja, kami gak minta sumbangan, kami gak minta dibantu masuk perguruan tinggi maupun masuk sebuah instansi swasta manapun, cukup datang saja, kami sudah merasa anda bagian dari kami, ALUMNUS SDN 09 PAGI PONDOK KELAPA.



Semoga sekian menit saya menulis ini, satu dari anda akan datang. :) Ya, anda, temanku.

Thursday, February 4, 2010

Toko buku. :)

Kemarin, aku pergi ke toko buku.
Aku benci sekali toko buku.
Tapi hari itu, aku melihatnya.
Sesosok yg bermandikan cahaya keanggunan.

Hari ini, aku kembali ke toko buku.
Kali ini aku tidak membenci toko buku.
Dan aku kembali melihatnya.
Seseorang yg menyimpan misteri dalam senyumannya.

Esok hari, aku berada di toko buku.
Aku mulai senang dengan toko buku.
Tapi aku tidak melihatnya.
Seorang yg kukagumi tatapan indahnya.

Kini, aku tidak berada di toko buku.
Harapanku hilang di toko buku.
Hanya bisa memohon bertemu dengannya.
Satu anugerah yg pernah hadir dari-Nya.

Namun, entah mengapa aku rindu toko buku.
Aku ingin mengunjungi toko buku.
Mungkin tidak akan melihatnya.
Sampai kapanpun aku menunggunya.

Sekarang, aku duduk di toko buku.
Menunggu ia yg pernah ada di toko buku.
Ia datang untuk kedua kalinya.
Sebutir air turun dari mata indahnya.

Selamanya, tak kan kulupakan toko buku.
Akan kuingat selalu toko buku.
Karena kini kukenal dirinya.
Dan akhirnya ku tahu alasan airmatanya.

Kembali, kami ke toko buku.
Kami berdiri, berdua, di toko buku.
Ia kekasihku, Ia lentera yg terus bercahaya.
Aku kan terus mencintainya, sampai akhir hayatnya.



Wah kebanyakan menghayal jadi begini. :) Ah bagus kok tapinya, setuju gak pembaca? :p

Ah, hm, er, boo. :p

Mau saya ajari sesuatu?
Sebenarnya saya juga belum bisa.
Tapi saya ingin ajari kamu.
Karena saya tahu kamu bisa.

Ini tidak sulit, tidak juga mudah.
Tidak perlu catatan, tidak perlu hafalan.
Mungkin ini butuh aku.
Tapi yang pasti, harus ada kamu.

Hm, saya mesti mulai dari mana ya.
Awalnya saja saya bingung.
Tolong bantu saya, ya.
Akan saya mulai sekarang.

Dor, saya tembak kamu.
Tandanya saya sayang kamu.
Kok diam? Kamu sehat?
Jangan bilang kamu sakit.

Iya, ini bukan pelajaran.
Saya tahu, saya cuma ingin kamu dengar saja.
Salah ya berucap seperti ini?
Hm, salah saya. Maaf ya.

Tapi saya sungguh sungguh.
Saya sayang kamu.


Hha :p Muka saya semerah F10.

Menikah, ya?

Siang, :)
Pagi ini sudah berbuat kebajikan dengan mengalahkan pasukan Gorgon? :p

Topiknya judulnya sangat, dewasa. Aneh ya saya? Baru aja, hm, bener bener baru 6 hari saya berumur 19 tahun, saudari sepupu saya, yg mana umurnya hanya terpaut kurang lebih 8 bulan, akan menikah *insyaallah* di penghujung bulan ini.

Wow, cuma wow, wow, dan wow lagi. Kok secepat itu? Apa dia dan calonnya udah yakin seyakin yakinnya? Nikah usia muda katanya gak gampang loh! Udah punya pekerjaan belom tuh cowoknya? Ah itu cowoknya udah diliat bibit bebet bobotnya belum? Ah ini pasti ada apa apanya masa umur segitu udah mau nikah aja *innalillahi, naudzubillah, jangan sampe deh*.

Jangan coba coba limpahkan pertanyaan anda yg segudang itu ke saya, yg nikah itu sepupu saya, oke?

Harusnya ini gak di post di blog, karena saya tahu tidak sopan membicarakan orang di belakang. Apalagi berita ini hanya untuk kalangan keluarga. Meskipun bukannya mustahil Facebooknya sepupu saya sudah ada beberapa ucapan selamat tersemat dengan rapih di wallnya. :) Namun, saya tidak akan mendiskreditkan pihak manapun. Bahkan identitas sayapun, anda para pembaca kurang mengetahui, kan? :)

Baiklah kembali ke topik, apa ya tadi?

Menikah, bung. Menikah. Menurut KBBI, nikah, terdiri dari 2 suku kata, 'ni' dan 'kah'. Sebuah kata benda yg mengandung makna ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama: hidup sbg suami istri tanpa -- merupakan pelanggaran thd agama. Itulah kurang lebih.

Mungkin buat seorang anak berumur 7 tahun akan berpikir begini "Teteh mau nikah? Wah makanannya banyak dong! Aku ikut dong mah!" dan hanya itu. Itu pernah terjadi pada saya, :) rasanya baru kemarin bilang begitu. Cuma kalo sekarang denger kok, rasanya beda banget. Langsung kepikiran kerja di kantor dan gajinya gede, punya istri cantik *wanita cantik, anda mau nggak? :p*, istrinya setiap malam selalu nemenin meskipun mesti gak tidur, punya anak yg lucu dan berprestasi di tiap jenjang pendidikannya, tiap malam minggu dapat pijatan 'spesial' *jgn dibahas :p*. Tapi pikiran jelek saya angkat bicara, jadinya begini deh, kerjaan numpuk jadi gak pernah bisa pulang, sekalinya bawa kerjaan ke rumah biar bisa dikerjain malem malah dimarahin istri, istrinya cantik tapi tiap suaminya pulang cemberut, anaknya bandel minta dipites, jangankan pijat, bahkan minta bikinin teh aja istrinya cuek aja. *bagi kaum hawa saya mohon maaf ini bukan ingin merusak citra anda di mata kaum adam, hanya saja saya sudah melihat ikatan suci beberapa teman saya berjalan seperti ini,*

Wah susah ya, definisi menikahnya aja cuma segaris begitu. Pake nyebutin jeleknya segala, mau gak nikah aja ya penulis? *gak lah eh buset :(* Kalo gak gitu sebenernya apa sih yg mau diomongin?

Pilihan, keluarga, tanggung jawab.
Saya sih hanya mampu menangkap 3 hal dalam topik ini. Ada banyak lagi sepertinya, hanya saja saya tidak mampu menulis kesemuanya. :)

Pilihan? Seperti pada kertas ujian? Gampang lah! Rumus itung kancing aja!
Yep, dan bukan seperti kertas ujian, maka gak segampang hitung kancing. Begini, itu kan berarti anda memilih untuk siap melangkah menyudahi fase remaja menjadi fase dewasa. Benar benar siap sesiap siapnya sehingga anda memilih untuk rela meninggalkan masa masa anda mengquote kalimat kalimat cinta sebagai status facebook/twitter/tumblr/blog untuk menarik lawan jenis anda. Anda memilih untuk merasa siap melanjutkan hidup anda didampingi oleh seseorang yg anda rela berbagi cerita, suka dan duka, bahkan berbagi tempat tidur dengannya *tulisan saya gak vulgar kan?*. Anda berani memilih untuk menaiki satu anak tangga dimana anda tidak akan pernah bisa turun lagi dengan keadaan yg sama ketika anda naik. Dan pilihan itu, berujung pada satu kesimpulan, kan? Yep, berkeluarga.

Penulis yg terhormat, keluarga berarti dari sejak saya dilahirkan dong?
Iya, tapi kali ini, andalah yg mengatur keseluruhan arah bahteranya akan menuju kemana. Akan ada jutaan kenangan, manis maupun pahit, yg secara perlahan lahan anda temukan. Anda akan menemui bahwa memimpin itu, tidak semudah membalikkan Krabby Patty. Anda akan melihat, bahwa kebahagiaan yg selama ini anda dambakan, berada hanya sejengkal dari hidung anda, ya, itu adalah putra/i anda. Namun bukan mustahil, anda akan sadar, bahwa ada saatnya anda begitu kesal ketika anda mengetahui kelakuan putra/i anda tidak sesuai harapan, sehingga ketika anda merenung, pikiran 'Selama ini ayah dan ibu kecewa ya terhadap perilaku saya?' pun terbayang. Namun pilihan sudah dibuat, Undangan telah disebar, pesta pun usai diadakan. Maka bahtera keluarga anda pun mulai berlayar. Anda mungkin menyesal, mungkin juga tidak. Tapi, secara tidak langsung, anda pun mulai merasakan sesuatu. Berat, namun pasangan hidup anda kini telah berada di samping anda untuk membantu anda memikul beban itu berdua. Ya, beban yg sedari dulu kita kenal sebagai, tanggung jawab.

Yaah kalo tanggung jawab itu sih pelajaran anak sd dong, bung penulis.
Nah anda tahu. :) Salah satu pelajaran yg susah dimengerti. 'Kenapa sih kita harus ngaku/tanggung jawab kalo kita salah?' Hahasaya pernah baca seseorang berbicara seperti ini,
Pengakuan terhadap kesalahan anda sendiri, sesungguhnya merupakan kekuatan, karena itu berarti anda berani meminta tolong untuk memperbaiki kesalahan anda.
Sebelumnya maaf ini saya lupa ucapan siapa, dan mungkin tidak tepat seperti ini ucapan beliau. Kalau ada yg tahu ya jangan segan segan untuk memberitahu. :)

Lihat, tidak sesulit itu kan, penulis?
Saya belum selesai. :) Karena kalau saya berhenti disini, anda mungkin akan menganggap cukup dengan mengaku saja cukup, masalah selesai. Tidak. Tidak semudah itu. Di dunia ini, kata maaf saja tidak cukup. Anda berkewajiban untuk benar benar, benar *saya tidak salah ketik* menyelesaikan setiap masalah. Ketika anda tidak membelikan sesuatu kepada putra/i anda, bukan tidak mungkin mereka akan menangis. Maka jika anda berhasil menghentikan tangis mereka *yg dalam hal ini saya sebut sebagai sebuah masalah*, berarti anda telah berhasil melaksanakan kewajiban anda menyelesaikan sebuah masalah tanpa masalah *pegadaian dong :p*. Ini, yg saat ini bisa saya tangkap sebagai sesuatu yg dinamakan tanggung jawab. Namun masalah tanggung jawab ini, terlalu luas untuk hanya dijabarkan hanya dalam sebagian post. Saya janji akan saya bahas lain kali. :)

Saya tidak bisa mengatakan anda tidak boleh menikah saat ini, penulis pun mengakui bahwa ia tidak siap untuk menikah. Namun jika anda sudah gak tahan~ *ahaha :p* baca saja dari atas, itu pilihan anda untuk berkeluarga, maka bertanggung jawablah. :)

Tuh kan berat bener dah topiknya. :p Udah editan ke berapa ya ini?

Monday, February 1, 2010

Buat si nona manis, :)

You're coming back.
Thanks, but I dont need you.
I'm good already, even though I'm always wishing for you to come.
Yeah, I'm good.

You're standing there all day long.
There is no reason for you to stay.
I'm fine by myself, even though I'm always looking at you.
Yup, I'm fine.

You keep talking to me every single day.
I never asked you to do so.
I'm alright, even though I'm always waiting for you to speak to me.
Uh huh, I'm alright.

You always keep your faith up.
I'm sure it wasnt me, right?
I'm okay, even though I'm always dreaming that you're being with me.
Really, I'm okay.

Ah? You're leaving?
Did I just hurt you so bad?
I'm sorry, even though I'm doubting I wont do it again.
Hey, I'm really sorry.

I'm an idiot, I really am.
I've told you, but I never really told you in person.
I love you, even though I know I can't have you.
I do, really love you.



Harusnya di post di notes fb tapi gak berani. :( Grammar juga ngaco ya?

Smokers, love it/leave it?

Hola fellow readers! :D
How's your January? :)

Ada sesuatu yg cukup mengganjal nih, jadi mari kita mulai ambil sekop dan cangkul yg dalam. :p
Beberapa hari yg lalu seorang teman di facebook menulis statusnya seperti ini :
"Ingin berdebat mengenai pencitraan perokok, ada yang mau melayani saya?"
Wew, kok begini sih, oke sejak saya sedang tidak dalam melakukan kegiatan yg bermakna, lets get it on! :D
Sebut saja teman saya oknum T, dan saya makhluk G.

G : Gak bagus. =( Bikin asma gw kumat aja kalo deket deket asep. =(
T : Mengenai pencitraan bos. Bukan dampak positif dan negatif.
G : Lah iya, orang yg ngerokok suka ignorant sama orang sebelahnya, udah jelas bgt napas gw jadi mpot mpotan masiih aja dilanjutin. Jadi menurut gw itu, amat buruk. =( Setidaknya orang yg kemaren itulah penyebab gw makin gak suka ngeliat perokok. =(
T : gini, jadi karena hanya ada beberapa orang yang mengganggu pernafasan lo, lo merasa citra mereka buruk? apa udah dilihat bagaimana prestasi mereka? bagaimana kontribusi mereka mungkin terhadap dunia mereka, entah itu perkuliahan ataupun berkarir.
G : eswete jelas bgt lo mendukung perokok, hha. Well, kalo mereka memiliki kontribusi yg besar terhadap dunia mereka, dan segitu teganya ngeliat gw setengah mati berada di angkot. Berarti kesimpulan yg bisa gw ambil adalah, yep, mereka gak peduli dunia sekitar, melainkan dunia dia, dan rokoknya.
T : gw perokok, dan gw benci ketika perokok hanya dipandang sebelah mata. kalo memang perokok itu mengganggu lo, ya tegor, karena mereka juga tidak tahu apa anda perokok atau tidak.
mengenai ignorant mereka
ketika anda gak menegor mereka, apa mereka mengganggu atau tidak, siapa yang tidak peduli kalo begitu?

perokok pemula adalah orang yang ingin tahu, benar?
perokok tahu, bahwa rokok memang tidak baik, benar?

tapi itu yang menjadikan nilai lebih, mereka berani mencoba hal baru dengan segala konsekuensi yang udah mereka tahu, dan sekali lagi itu yang menjadikan perokok lebih cepat dan tanggap dalam segala hal dan berani mengambil resiko, semua perokok yang saya kenal dan saya sendiri memiliki karakter yang seperti itu.

G : Hm, kayaknya gw lupa bilang kalo itu orang udah gw tegur. Cuma mungkin karena gw lemes udah mau pingsan, jadi gak dianggap sebuah teguran.
Cepat dan tanggap, serta berani mengambil resiko. Hm, di dunia yg semua pilihan memiliki nilai resiko, maksud lo mereka bisa/sudah memilih dengan benar?
Gak bisa dibantah deh, =) Ijin mati duluan ya besok.


Jika anda baca ini, oknum T, sebagian komentar anda yg mengomentari oknum lainnya saya tidak masukkan ke sini. Tidak apa kan? :)
Agak ngegantung sih, maklum gak punya bahan, itu juga iseng doang. Tapi pokoknya, menurut dia, merokok itu harusnya bukan sesuatu yg jadi patokan dalam menilai imej seseorang. Malah memiliki beberapa modal yg sangat baik dalam kehidupannya maupun pekerjaannya kelak. Hm, meski saya bilang gak bisa lagi dibantah, sebenernya tiba tiba malah jadi kepikiran miliaran alasan untuk membenci seorang perokok. Gak salah kan kalo saya benci orang yg hobinya bisa membunuh saya? :)

Eh tapi, gak lama setelah debat *yg garing, sumpah.*, tepatnya pada saat J-fest di UNSADA, teman saya yg ingin menyalakan rokoknya berkata kurang lebih seperti ini :
"Eh, lo berdua geser dong duduknya, angin nya kesana soalnya."
Wow, itu baru. Langsung terdiam terpaku. Memang setelahnya kami *saya dan si wanita cantik. :) beruntungnya bisa duduk di sebelahnya. :)* baru sadar kalo anginnya bertiup ke arah kanan, yg mana kalau kami pindah dari sebelah kiri, ya malah salah maksimal dong. :) Jadi posisi duduknya tidak berubah. :)
Tapi maksudnya baik, agar kami tidak menghirup udara yg ia buat dari rokoknya. Wah kata salut dan angkat topi serta terima kasih pun segera meluncur. :)

Anda semua tentu sudah tahu secara garis besar dampak negatif merokok, jadi mungkin anda semua juga berada di posisi saya yg membenci perokok. Tapi tahukah anda, teman saya yg perokok *saya sudah bilang teman kan? Soalnya kalo yg cuma asal sekelas justru banyak gak begini* mampu untuk berbicara di depan kelas tanpa rasa grogi *atau yg biasa dibilang demam panggung*, mempunyai pergaulan serta pemikiran yg luas, mampu berbicara tanpa biggie ol' mumbling *itu saya banget*, yg mana itu semua tidak saya miliki sebagai seorang yg membenci rokok dan penggunanya.

Kok tiba tiba jadi bagus gitu ya imejnya? Atau mungkin saya terlalu cepat mengambil kesimpulan? Benarkah Subandi Kartosuwiryo sudah menikah?

Gak juga, ini pandangan saya berbelok 90 derajat. Pak Subandi pun saya tidak kenal tapi entah kok sms teman saya yg lain isinya itu. Kalau dulu tiap ada yg ngerokok langsung jauh jauh karena menganggap mereka anak bandel, sekarang kebalikannya *oke saya bohong, saya tetap tidak akan mendekati jika kadar asapnya masih banyak,*. Tapi apa maksud saya nulis post ini, semua perokok itu baik? Gak tahu, soalnya saya pribadi jadi bingung harus milih menjauhi para perokok atau bergaul dengan mereka. Bagaimanapun saya tetap berharap tidak ada lagi perokok di indonesia ini.

Sayangnya, ganjelannya masih tetep ada, mungkin karena saya kurang menggali topik ini lebih dalam. Yang pasti, imej mereka udah gak negatif lagi di mata saya, tapi masih terlalu cepat buat saya bilang positif. Jadi netral. :)

Bagaimana dengan anda? :) Buang buang waktu ya baca mumblingan saya? Haha.