Thursday, February 4, 2010

Menikah, ya?

Siang, :)
Pagi ini sudah berbuat kebajikan dengan mengalahkan pasukan Gorgon? :p

Topiknya judulnya sangat, dewasa. Aneh ya saya? Baru aja, hm, bener bener baru 6 hari saya berumur 19 tahun, saudari sepupu saya, yg mana umurnya hanya terpaut kurang lebih 8 bulan, akan menikah *insyaallah* di penghujung bulan ini.

Wow, cuma wow, wow, dan wow lagi. Kok secepat itu? Apa dia dan calonnya udah yakin seyakin yakinnya? Nikah usia muda katanya gak gampang loh! Udah punya pekerjaan belom tuh cowoknya? Ah itu cowoknya udah diliat bibit bebet bobotnya belum? Ah ini pasti ada apa apanya masa umur segitu udah mau nikah aja *innalillahi, naudzubillah, jangan sampe deh*.

Jangan coba coba limpahkan pertanyaan anda yg segudang itu ke saya, yg nikah itu sepupu saya, oke?

Harusnya ini gak di post di blog, karena saya tahu tidak sopan membicarakan orang di belakang. Apalagi berita ini hanya untuk kalangan keluarga. Meskipun bukannya mustahil Facebooknya sepupu saya sudah ada beberapa ucapan selamat tersemat dengan rapih di wallnya. :) Namun, saya tidak akan mendiskreditkan pihak manapun. Bahkan identitas sayapun, anda para pembaca kurang mengetahui, kan? :)

Baiklah kembali ke topik, apa ya tadi?

Menikah, bung. Menikah. Menurut KBBI, nikah, terdiri dari 2 suku kata, 'ni' dan 'kah'. Sebuah kata benda yg mengandung makna ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama: hidup sbg suami istri tanpa -- merupakan pelanggaran thd agama. Itulah kurang lebih.

Mungkin buat seorang anak berumur 7 tahun akan berpikir begini "Teteh mau nikah? Wah makanannya banyak dong! Aku ikut dong mah!" dan hanya itu. Itu pernah terjadi pada saya, :) rasanya baru kemarin bilang begitu. Cuma kalo sekarang denger kok, rasanya beda banget. Langsung kepikiran kerja di kantor dan gajinya gede, punya istri cantik *wanita cantik, anda mau nggak? :p*, istrinya setiap malam selalu nemenin meskipun mesti gak tidur, punya anak yg lucu dan berprestasi di tiap jenjang pendidikannya, tiap malam minggu dapat pijatan 'spesial' *jgn dibahas :p*. Tapi pikiran jelek saya angkat bicara, jadinya begini deh, kerjaan numpuk jadi gak pernah bisa pulang, sekalinya bawa kerjaan ke rumah biar bisa dikerjain malem malah dimarahin istri, istrinya cantik tapi tiap suaminya pulang cemberut, anaknya bandel minta dipites, jangankan pijat, bahkan minta bikinin teh aja istrinya cuek aja. *bagi kaum hawa saya mohon maaf ini bukan ingin merusak citra anda di mata kaum adam, hanya saja saya sudah melihat ikatan suci beberapa teman saya berjalan seperti ini,*

Wah susah ya, definisi menikahnya aja cuma segaris begitu. Pake nyebutin jeleknya segala, mau gak nikah aja ya penulis? *gak lah eh buset :(* Kalo gak gitu sebenernya apa sih yg mau diomongin?

Pilihan, keluarga, tanggung jawab.
Saya sih hanya mampu menangkap 3 hal dalam topik ini. Ada banyak lagi sepertinya, hanya saja saya tidak mampu menulis kesemuanya. :)

Pilihan? Seperti pada kertas ujian? Gampang lah! Rumus itung kancing aja!
Yep, dan bukan seperti kertas ujian, maka gak segampang hitung kancing. Begini, itu kan berarti anda memilih untuk siap melangkah menyudahi fase remaja menjadi fase dewasa. Benar benar siap sesiap siapnya sehingga anda memilih untuk rela meninggalkan masa masa anda mengquote kalimat kalimat cinta sebagai status facebook/twitter/tumblr/blog untuk menarik lawan jenis anda. Anda memilih untuk merasa siap melanjutkan hidup anda didampingi oleh seseorang yg anda rela berbagi cerita, suka dan duka, bahkan berbagi tempat tidur dengannya *tulisan saya gak vulgar kan?*. Anda berani memilih untuk menaiki satu anak tangga dimana anda tidak akan pernah bisa turun lagi dengan keadaan yg sama ketika anda naik. Dan pilihan itu, berujung pada satu kesimpulan, kan? Yep, berkeluarga.

Penulis yg terhormat, keluarga berarti dari sejak saya dilahirkan dong?
Iya, tapi kali ini, andalah yg mengatur keseluruhan arah bahteranya akan menuju kemana. Akan ada jutaan kenangan, manis maupun pahit, yg secara perlahan lahan anda temukan. Anda akan menemui bahwa memimpin itu, tidak semudah membalikkan Krabby Patty. Anda akan melihat, bahwa kebahagiaan yg selama ini anda dambakan, berada hanya sejengkal dari hidung anda, ya, itu adalah putra/i anda. Namun bukan mustahil, anda akan sadar, bahwa ada saatnya anda begitu kesal ketika anda mengetahui kelakuan putra/i anda tidak sesuai harapan, sehingga ketika anda merenung, pikiran 'Selama ini ayah dan ibu kecewa ya terhadap perilaku saya?' pun terbayang. Namun pilihan sudah dibuat, Undangan telah disebar, pesta pun usai diadakan. Maka bahtera keluarga anda pun mulai berlayar. Anda mungkin menyesal, mungkin juga tidak. Tapi, secara tidak langsung, anda pun mulai merasakan sesuatu. Berat, namun pasangan hidup anda kini telah berada di samping anda untuk membantu anda memikul beban itu berdua. Ya, beban yg sedari dulu kita kenal sebagai, tanggung jawab.

Yaah kalo tanggung jawab itu sih pelajaran anak sd dong, bung penulis.
Nah anda tahu. :) Salah satu pelajaran yg susah dimengerti. 'Kenapa sih kita harus ngaku/tanggung jawab kalo kita salah?' Hahasaya pernah baca seseorang berbicara seperti ini,
Pengakuan terhadap kesalahan anda sendiri, sesungguhnya merupakan kekuatan, karena itu berarti anda berani meminta tolong untuk memperbaiki kesalahan anda.
Sebelumnya maaf ini saya lupa ucapan siapa, dan mungkin tidak tepat seperti ini ucapan beliau. Kalau ada yg tahu ya jangan segan segan untuk memberitahu. :)

Lihat, tidak sesulit itu kan, penulis?
Saya belum selesai. :) Karena kalau saya berhenti disini, anda mungkin akan menganggap cukup dengan mengaku saja cukup, masalah selesai. Tidak. Tidak semudah itu. Di dunia ini, kata maaf saja tidak cukup. Anda berkewajiban untuk benar benar, benar *saya tidak salah ketik* menyelesaikan setiap masalah. Ketika anda tidak membelikan sesuatu kepada putra/i anda, bukan tidak mungkin mereka akan menangis. Maka jika anda berhasil menghentikan tangis mereka *yg dalam hal ini saya sebut sebagai sebuah masalah*, berarti anda telah berhasil melaksanakan kewajiban anda menyelesaikan sebuah masalah tanpa masalah *pegadaian dong :p*. Ini, yg saat ini bisa saya tangkap sebagai sesuatu yg dinamakan tanggung jawab. Namun masalah tanggung jawab ini, terlalu luas untuk hanya dijabarkan hanya dalam sebagian post. Saya janji akan saya bahas lain kali. :)

Saya tidak bisa mengatakan anda tidak boleh menikah saat ini, penulis pun mengakui bahwa ia tidak siap untuk menikah. Namun jika anda sudah gak tahan~ *ahaha :p* baca saja dari atas, itu pilihan anda untuk berkeluarga, maka bertanggung jawablah. :)

Tuh kan berat bener dah topiknya. :p Udah editan ke berapa ya ini?

No comments:

Post a Comment