Sunday, February 7, 2010

Salon, yup, saya ke salon.


Yo! :) You guys ready to rock? :D
Saya nggak, itu bisa bikin smiley senyum aja udah pencapaian yg sangat tinggi di minggu yg penuh libur ini. :p

Judulnya salon, bagi yg gak tau, mohon berhenti bacanya, yak, disini, oke oke cukup.
Hm? Kenapa diterusin sih bacanya? Beneran ini gak ada isinya. :p Anda akan menyesal melanjutkan membaca ini. :p

Ahaha, ehem, saya mulai. :)
Pada suatu hari minggu yg cerah, hari ini dimulai dengan tv yg selalu menyala di stasiun tv SCTV di pagi hari, *malamnya, saya rasa penghuni rumah selain saya menghibur diri mereka dengan 'you-know-what' di SCTV*, dan membicarakan tentang tempat wisata di bandung, ada kebun teh *yg ini kayaknya di puncak*, ada kopi anggur, dan mata air, yg secara bodohnya, penulis lupa mencatat kesemuanya sehingga seharusnya, tulisan ini berhenti disini.

Namun, semangat jurnalistik, statistik, dan menggelitik saya, tidak dapat ditunda tunda lagi, maka, akan saya lanjutkan hari yg berakhir dengan, cukup menormalkan mood ini. Tak lama setelah kesemua tempat wisata tersebut, wow, Hedi Yunus, Mario Ginanjar, Yovie Widianto, all crew 'Kahitna', perform di Liputan 6 Pagi! :D Hanya kali ini tanpa Carlo Saba, karena ayah beliau baru saja meninggalkan kita semua sejak beberapa hari yg lalu. Minta saat tenangnya sebentar ya, pembaca. :)



Terima kasih. :) Oke dilanjut!
Tak lama setelah wawancara grup band yg sudah eksis selama lebih 2 generasi itu, ternyata orang tua saya, merequest untuk menghilangkan sebagian dari yg banyak orang sebut sebagai 'mahkota wanita' tepat di siang ini. :( Saya benci jika gunting digunakan untuk hal hal yg tidak bermanfaat seperti ini, tapi apa boleh buat, saya tidak rela apabila kejadian ini berdampak buruk pada laporan keuangan perusahaan bulan ini. Maka sebagai pemimpin perusahaan yg baik dan budiman, rajin, sopan, baik hatinya, rajin menabung, ramah kepada handai taulan, banyak bergaul, saya pun merelakan sebagian dari, er, lebih baik tidak disebutkan. :p

Dan ternyata wanita cantik pun mendukung perintah orang tua saya, hm. Jelas kalo sudah begini tidak ada jalan lain lagi. Salon, ini 99% isi dompet saya, mohon digunakan untuk hal yg bermanfaat. Sebagai gantinya, *gulp* t-tolong, err, potong, ARRGH!! POTONG RAMBUT SAYA!!! :((

Gak pake teriak sih, dan gak pake bilang kalo isi dompet sang pujangga sedang tipis. Tapi menurut sudut pandang orang ke sekian, begitulah. Seorang pria mencuci rambut saya terlebih dahulu, dan tak lama, pria yg lainnya memotong rambut saya tanpa sedikitpun perasaan bimbang maupun bersalah. Tapi, hasilnya meskipun sedikit terlalu pendek, cukup baik. :) Sedikit gel/minyak rambut setiap hari akan membuatnya sempurna. :D Wah ini kedua kalinya saya tidak komplain dan meminta tambahan kertas berharga untuk bulan ini. Hebat, dan kini saya mulai sadar mengapa barber shop yg dulu biasa saya kunjungi terasa begitu, mengecewakan.

Alasan pertama, tentu, tak lain dan tak bukan, HARGA.
2 kali lipat, ckckck. Biasanya hanya Rp. 14.000,- untuk kepala dewasa, dan Rp. 12.000,- untuk anak dibawah umur. Kalau di salon, tiap biaya dihitung seperti belanja di supermarket, jadi cuci rambut dihitung satu, creambath itu dihitung sendiri, potong rambut pun lain lagi. Ada paket sih, tapi itu lebih ke girly an, saya tak mau jadi girly-man. *Hoshi inu apa kabar kalian yaa? :)* Ya tidak heran harga hanya potong rambut saja hingga dua kali lipatnya, karena ditambah sampo dan air beserta pekerjanya.

Tapi, HARGA yg mahal itu, dibayar dengan KUALITAS.
Heran saya, pas nyuci rambut ditanyain mau potong sama siapa, jelas jelas saya ini makhluk pendatang, mana kenal sama para ahli pemegang gunting tersebut. Maka akhirnya jawab sekenanya, "Siapa aja deh, yg ada diskonnya aja kalo bisa." Ketawa semua sebaris yg lagi pada nyuci rambut, duh. :p Oh dan motongnya gak pake mesin laknat itu, yg pernah bikin kepala penulis mirip sama rambutan. Gunting, ada 3 apa 4 gitu di tasnya, tapi cuma pake dua. Sisirnya, ada beberapa, dari yg giginya tipis sampe jarang. Meski alat itu gak digunakan semua, tapi kalau seandainya saya minta gaya yg aneh aneh pasti semuanya berdansa di atas kepala saya. Sedangkan di barbershop langganan, pake silet segala. Saya mau potong rambut mas, bukan mau duluan.

Benarkah anda mau menukar HARGA dengan KUALITAS?
Tentu saja, dari sekian ribu uang yg pernah saya keluarkan untuk potong rambut, totalnya 56 ribu rupiah. yg sungguh memberikan pengalaman berharga soal salon ini. Saya tidak akan, baiklah lebih lebay sedikit, TIDAK AKAN, memotong rambut saya di barbershop lagi, kecuali jika oknum tertentu mengharamkan salon. :( Karena saya mulai suka potongan rambut yg mereka lakukan.

Isinya apaan postingan ini heh? :p Kalo anda merasa tertipu yaa, kan sudah saya peringatkan. :p
Good day for all of you guys! :D

No comments:

Post a Comment